Sudutpandang.co.id, Jombang – Penelusuran jejak sejarah masa kecil Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, terus digali lebih mendalam di Kabupaten Jombang. Komisi D DPRD Jombang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) melakukan peninjauan langsung ke Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Rabu (20/5/2026). Lokasi ini disebut-sebut sebagai titik nol atau tempat awal kehidupan Sang Proklamator.
Kunjungan kerja ini bertujuan untuk melihat kondisi lapangan secara langsung, sekaligus menggali informasi dari warga sekitar serta mendengar pemaparan lengkap dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang telah lama melakukan kajian terkait keberadaan Bung Karno di wilayah tersebut.
Sekretaris Komisi D DPRD Jombang, Rahmad Agung Saputra, menjelaskan bahwa peninjauan ini merupakan langkah penting dalam pendalaman data sebelum nantinya dilakukan proses penetapan secara resmi oleh pemerintah pusat. Menurutnya, upaya ini dilakukan untuk meluruskan sejarah berdasarkan fakta, mengingat selama ini nama Surabaya yang lebih banyak dikaitkan sebagai tempat kelahiran Bung Karno.
“Kami melihat langsung kondisi di lokasi yang disebut sebagai titik nol Bung Karno. Kami juga menggali informasi dari masyarakat serta mendengar penjelasan lengkap dari TACB yang menyatakan bahwa masa kecil Bung Karno berada di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso,” ujar Agung.
Ia menegaskan, hasil penelusuran yang ada saat ini masih memerlukan kajian mendalam dan penyempurnaan data. Hal ini penting agar bukti-bukti yang dikumpulkan kuat, lengkap, dan tidak memicu perdebatan di kemudian hari. Pihak legislatif berkomitmen akan mengawal proses ini hingga ke tingkat kementerian.
“Persoalan sejarah ini harus diselesaikan berdasarkan bukti dan data, bukan asumsi semata. Kami berharap lokasi ini nanti bisa ditetapkan secara sah sebagai titik nol Bung Karno. Kami akan memfasilitasi dan mendorong proses tersebut. Yakin atau tidak, biar data dan fakta sejarah yang berbicara,” tegasnya.
Agung juga menambahkan, DPRD telah mendorong Disdikbud Jombang untuk segera melakukan audiensi dengan pihak kementerian terkait dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun dinilai perlu dilakukan agar tidak terjadi simpang siur informasi terkait sejarah bangsa ini.
“Kami akan kawal terus hasil audiensi tersebut. Harapannya semua bisa dibuka dan dibahas secara objektif berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan,” tambahnya.
Rangkaian Bukti Sejarah dan Dokumen
Sementara itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, Nasrullah, memaparkan bahwa kajian mengenai jejak Bung Karno di Jombang sebenarnya telah berjalan cukup lama, bahkan bermula dari cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Nasrullah mengisahkan, awal mula informasi ini didapatkannya pada tahun 1985, saat dirinya terlibat dalam pembangunan Monumen Perang Sebani di Kecamatan Sumobito. Saat itu, terdapat seorang warga lanjut usia yang mengaku pernah merawat Bung Karno semasa kecil. Namun, pada masa itu informasi tersebut belum dikaji lebih jauh dan dianggap sekadar cerita turun-temurun. Baru pada tahun 2017, kajian dilakukan secara serius dan sistematis bersama Disdikbud Jombang.
“Kami menelusuri hingga menemukan saksi mata dan keturunannya, hingga keterangannya mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Bahwa Bung Karno pernah tinggal dan menghabiskan masa kecilnya di wilayah Ploso,” ungkap Nasrullah.
Dari hasil penelusuran tersebut, ditemukan sejumlah dokumen penting yang dinilai memperkuat dugaan bahwa Bung Karno lahir dan tinggal di Ploso hingga usia lima tahun. Salah satu data kunci yang ditemukan adalah dokumen pendaftaran kuliah Bung Karno yang mencantumkan tahun kelahiran 1902. Selain itu, terdapat pula dokumen perpindahan tugas ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, ke wilayah Ploso pada tahun 1901. Rangkaian waktu ini dianggap sangat berkaitan erat dengan masa kelahiran dan pertumbuhan sang anak.
Terkait penyebutan nama Surabaya yang selama ini dikenal luas sebagai tempat lahir, Nasrullah memberikan penjelasan historis. Menurutnya, pada masa itu Kabupaten Jombang belum berdiri secara administratif seperti sekarang, dan masih masuk dalam wilayah lingkup Karesidenan Surabaya.
“Penyebutan Surabaya pada dokumen-dokumen lama bisa jadi merujuk pada wilayah administratif masa itu, bukan berarti beliau lahir di dalam Kota Surabaya. Secara geografis dan administratif saat itu, wilayah Jombang adalah bagian dari Karesidenan Surabaya,” jelasnya.
Berdasarkan bukti-bukti tersebut, kajian sejarah mengenai jejak Bung Karno di Jombang terus diperkuat guna melengkapi khazanah sejarah perjuangan bangsa, sekaligus menjadikan lokasi tersebut sebagai bagian penting dari sejarah kepahlawanan nasional.(Azl/Red).






