Sudutpandang.co.id, Jombang — Suasana hangat ditemani secangkir kopi di Shelter Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama kawasan Tambakberas, Jombang, menjadi pembuka dialog strategis para pegiat kebencanaan dari berbagai daerah se-Indonesia. Di tengah padatnya rangkaian Muktamar ke-35 NU, Jumat (28/8/2026), para pengurus LPBI NU berkumpul dalam forum bertajuk NGOPI — Ngaji Olahdaya Perubahan Iklim, membahas ancaman bencana, kesiapsiagaan masyarakat, hingga masa depan gerakan kemanusiaan warga NU.
Dikemas secara santai namun sarat makna, forum ini digagas oleh LPBI PCNU Jombang sebagai alternatif diskusi yang tidak kaku namun tetap mendalam. Alih-alih berpidato di atas panggung, para peserta duduk melingkar, saling bertukar pengalaman nyata di lapangan — mulai dari Jawa Timur, Bali, hingga Kalimantan Timur.
Hadir dalam pertemuan ini perwakilan PC LPBI NU Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Blitar, Surabaya, Nganjuk, Kabupaten Malang, Mojokerto Kota, Tulungagung, Ponorogo, PW LPBI NU Jawa Timur, perwakilan Denpasar Bali, Kalimantan Timur, hingga Pengurus Besar LPBI NU. Keberagaman latar wilayah ini memperkaya pembahasan, mengingat setiap daerah memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda — mulai dari banjir, perubahan pola cuaca ekstrem, hingga kerusakan lingkungan.
Pertemuan ini menegaskan satu realitas penting yaitu bencana tidak mengenal batas wilayah. Oleh karena itu, penanganannya pun tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan memerlukan jejaring yang kokoh dan kerja sama lintas daerah.
Dalam diskusi, para peserta sepakat bahwa perubahan iklim kini tak terpisahkan dari risiko kebencanaan. Pergeseran pola cuaca dan kerusakan lingkungan meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap bencana. Karena itu, penanganan bencana tidak boleh hanya bersifat responsif saat kejadian, melainkan harus diperkuat dengan pencegahan, pemetaan risiko, edukasi masyarakat, dan peningkatan kesiapsiagaan jauh sebelum keadaan darurat terjadi.
Selain isu teknis kebencanaan, forum juga menyoroti pentingnya peningkatan profesionalisme di tubuh LPBI NU. Kerja kemanusiaan membutuhkan lebih dari sekadar semangat kepedulian — diperlukan sumber daya manusia yang berkapasitas, sistem kerja yang terukur, koordinasi lintas sektor, serta kemampuan mengambil keputusan cepat di situasi darurat.
Ketua LPBI PCNU Jombang, Khoirul Hasyim, menjelaskan bahwa sarasehan NGOPI ini bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Pertemuan sederhana ini diharapkan menjadi pijakan awal untuk memperkuat peran dan keberdayaan LPBI NU di seluruh pelosok Nusantara dalam berkhidmat kepada umat.
“NGOPI ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk mendorong kebermanfaatan peran LPBI NU se-Nusantara agar semakin bersemangat dan berdaya dalam berkhidmat kepada umat,” ujar Khoirul.
Lebih dari sekadar obrolan santai, berbagai gagasan dan temuan yang muncul dalam diskusi ini akan dirangkum menjadi catatan penting yang selanjutnya disampaikan sebagai rekomendasi kepada Pengurus Besar LPBI NU. Dengan demikian, hasil pertemuan ini tidak berhenti di meja ngopi, melainkan menjadi masukan konkret bagi arah kebijakan gerakan kebencanaan warga NU ke depan.
“Secangkir kopi menjadi pintu masuk bagi percakapan yang jauh lebih besar. Dari persoalan perubahan iklim, kami berbicara tentang bagaimana masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana,” tambahnya.
Forum ini sekaligus memperlihatkan bahwa khidmat kebencanaan tidak harus selalu dimulai dari forum besar dan pembahasan yang kaku. Ruang-ruang sederhana seperti ini justru mampu melahirkan gagasan yang tumbuh dari pengalaman langsung di lapangan, saling berbagi, saling menguatkan — bukti nyata bahwa kepedulian terhadap keselamatan dan kesiapsiagaan bangsa bisa bermula dari hal-hal yang paling sederhana.(Azl/Red).






